Page Nav

HIDE

Berita24.com

latest

Responsive Ads

Apa Itu Peraturan Pemerintah, Perpres, Permen? Bedanya dan Dampaknya ke Publik

Apa Itu Peraturan Pemerintah, Perpres, Permen? Bedanya dan Dampaknya ke Publik Berita24.com - Apa Itu Peraturan Pemerintah, Perpres, Perme...

Apa Itu Peraturan Pemerintah, Perpres, Permen? Bedanya dan Dampaknya ke Publik

Berita24.com
- Apa Itu Peraturan Pemerintah, Perpres, Permen? Bedanya dan Dampaknya ke Publik

Apa Itu Peraturan Pemerintah, Perpres, Permen? Bedanya dan Dampaknya ke Publik

Pahami hierarki peraturan di Indonesia: Peraturan Pemerintah (PP), Perpres, dan Permen. Ini bedanya, cara cek, serta dampaknya ke layanan publik.

Ringkasan cepat

  • Untuk siapa: warga, pelaku usaha/UMKM, mahasiswa, jurnalis, ASN, dan siapa pun yang ingin paham aturan.
  • Berapa lama baca: 6–8 menit.
  • Butuh apa: kata kunci/topik kebijakan + akses situs peraturan resmi.
  • Estimasi biaya: gratis (akses dokumen peraturan umumnya gratis).
  • Rujukan cepat: pantau isu kebijakan di kanal Nasional.

Apa itu PP, Perpres, dan Permen—dan kapan dibutuhkan?

Dalam sistem hukum Indonesia, aturan tidak hanya berbentuk Undang-Undang. Ada aturan turunan yang dipakai pemerintah untuk menjalankan kebijakan agar bisa operasional di lapangan. Tiga yang paling sering ditemui publik adalah Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), dan Peraturan Menteri (Permen). Memahami bedanya membantu kita menilai: apakah suatu aturan memang “levelnya tepat”, siapa yang berwenang membuatnya, dan seberapa luas dampaknya.

Pengetahuan ini biasanya dibutuhkan saat Anda membaca berita kebijakan, mengurus layanan publik (misalnya izin usaha, bantuan, pendidikan, atau administrasi), menyusun SOP perusahaan/UMKM, atau saat Anda ingin memastikan sebuah kebijakan yang beredar di media sosial benar-benar punya dasar hukum. Kalau Anda rutin mengikuti isu kebijakan, Anda bisa menjumpai pembahasan seputar Nasional untuk konteks dan ringkasan perkembangan.

Syarat/dokumen yang perlu disiapkan (checklist)

  • Kata kunci topik (contoh: “bansos”, “perizinan usaha”, “pendidikan”, “kesehatan”, “pajak”).
  • Nama/nomor aturan jika sudah ada (mis. “Perpres Nomor … Tahun …”).
  • Tahun penerbitan (kalau diketahui) agar pencarian lebih cepat.
  • Catatan pertanyaan Anda: “aturan ini mengatur siapa?”, “berlaku kapan?”, “apa konsekuensinya?”.
  • Akses situs peraturan resmi (jika perlu untuk verifikasi dokumen).

Langkah-langkah memahami dan membedakan PP, Perpres, Permen (step-by-step)

1) Pahami posisi dalam hierarki peraturan

Secara sederhana: UU memberi “kerangka besar”, lalu aturan turunan membuatnya lebih teknis. PP biasanya dibuat untuk menjalankan UU secara lebih rinci. Perpres sering dipakai untuk mengatur pelaksanaan kebijakan pada level Presiden, termasuk pengaturan lintas sektor. Permen adalah aturan teknis di level kementerian untuk mengatur pelaksanaan urusan kementerian tertentu. Karena tingkatnya berbeda, ruang lingkup dan jangkauannya juga berbeda.

2) Baca bagian “Menimbang” dan “Mengingat”

Bagian ini biasanya menjelaskan alasan penerbitan aturan dan dasar hukum yang dipakai. Di sini Anda bisa melihat apakah aturan itu merujuk UU tertentu, PP, atau Perpres lain. Langkah ini penting untuk menilai apakah sebuah Permen memang “turunan” yang selaras atau justru berpotensi tumpang tindih.

3) Cek ruang lingkup: siapa yang diatur dan apa yang diatur

Perhatikan definisi, pasal tentang kewenangan, dan ketentuan pelaksanaan. Jika aturannya lintas kementerian/lembaga dan menyangkut kebijakan strategis, sering kali bentuknya Perpres. Jika sangat teknis dan operasional—misalnya tata cara layanan, standar, formulir, atau prosedur—umumnya muncul sebagai Permen (atau peraturan lembaga).

4) Pastikan status berlaku: tanggal penetapan vs tanggal diundangkan

Aturan baru efektif setelah diundangkan, kecuali ditentukan lain. Publik sering keliru karena hanya melihat tanggal penetapan. Cek juga apakah aturan “mencabut” aturan lama atau “mengubah” sebagian ketentuan. Ini penting agar Anda tidak memakai rujukan yang sudah tidak berlaku.

Opsi A (online): cara cek aturan dengan cepat

  1. Tentukan kata kunci + jenis aturan (PP/Perpres/Permen) + tahun (jika ada).
  2. Cari dokumen di portal peraturan resmi pemerintah (atau basis data peraturan nasional) untuk memastikan teks otentik.
  3. Bandingkan ringkasan kebijakan dari sumber tepercaya; untuk konteks isu terkini Anda dapat menelusuri kanal Nasional.
  4. Simpan tautan dokumen resmi + catat pasal yang relevan (minimal: tujuan, ruang lingkup, sanksi/konsekuensi, ketentuan peralihan).

Opsi B (offline): bila perlu verifikasi atau konsultasi

  1. Datang ke layanan informasi di instansi terkait (kementerian/dinas) untuk menanyakan penerapan aturan.
  2. Minta penjelasan “aturan pelaksana” di level daerah jika ada (misalnya peraturan gubernur/bupati/wali kota).
  3. Jika kasusnya spesifik (izin, sengketa administrasi, bantuan), konsultasikan ke petugas layanan atau pendamping hukum/klinik hukum kampus.

Biaya & estimasi waktu

Biaya: umumnya gratis untuk mengakses dokumen peraturan. Estimasi waktu: 10–30 menit untuk mencari dokumen dan membaca bagian penting; bisa lebih lama bila perlu membandingkan beberapa aturan atau menunggu klarifikasi instansi. Jika tidak pasti, estimasi waktu bervariasi tergantung daerah dan kompleksitas isu.

FAQ: masalah yang sering terjadi + solusinya

1) “Perpres itu di atas Permen atau sebaliknya?”

Perpres berada pada level lebih tinggi dibanding Permen. Permen umumnya berisi aturan teknis pelaksanaan urusan kementerian, sehingga tidak boleh bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi.

2) “Apa bedanya PP dan Perpres?”

PP biasanya dibuat untuk menjalankan UU secara lebih rinci. Perpres sering dipakai untuk kebijakan dan pengaturan pelaksanaan pada level Presiden, termasuk koordinasi lintas sektor. Cek dasar hukumnya di bagian “Mengingat”.

3) “Kenapa ada Permendagri, Permenkeu, dan lain-lain?”

Itu peraturan menteri (Permen) yang spesifik pada urusan kementerian masing-masing. Misalnya perpres vs permendagri sering dibandingkan ketika kebijakan pusat perlu diterjemahkan ke tata kelola pemerintahan daerah.

4) “Saya bingung karena ada aturan pusat dan aturan daerah—mana yang dipakai?”

Umumnya aturan daerah tidak boleh bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi. Jika ada perbedaan penerapan, minta penjelasan dasar hukum pelaksanaannya di instansi setempat.

5) “Aturan yang beredar di medsos benar nggak?”

Verifikasi dengan mencari dokumen resmi dan mencocokkan nomor/tahun/judul. Banyak hoaks memakai judul mirip atau mengutip pasal secara tidak lengkap. Mulai dari sumber tepercaya, lalu cek dokumen otentik.

6) “Apa arti ‘diundangkan’ dan ‘mulai berlaku’?”

“Diundangkan” adalah saat aturan resmi dicatat dan dipublikasikan dalam lembaran/berita negara. “Mulai berlaku” biasanya saat diundangkan, kecuali ditentukan tanggal lain pada ketentuan penutup/peralihan.

7) “Bagaimana kalau aturan baru mengubah aturan lama?”

Cek apakah bunyinya “mengubah”, “mencabut”, atau “menyatakan tidak berlaku”. Jika mengubah, biasanya ada pasal yang menyebut bagian mana yang diganti. Simpan versi terbaru sebagai rujukan.

Tips agar proses cek aturan lancar

  • Gunakan pola pencarian: jenis aturan + nomor + tahun + kata kunci (mis. “Perpres 2024 hilirisasi”).
  • Baca dulu: tujuan, definisi, ruang lingkup, kewenangan, ketentuan peralihan—baru detail teknis.
  • Bandingkan minimal 2 sumber ringkasan tepercaya untuk menangkap konteks, lalu pastikan ke dokumen resmi.
  • Untuk isu yang berdampak ke layanan publik, cari juga petunjuk teknis/SE dari instansi pelaksana (bila ada).
  • Jika Anda menulis/menyebarkan info, cantumkan nomor-tahun-judul aturan agar tidak rancu.

Sumber/rujukan (instansi)

  • Portal/basis data peraturan perundang-undangan resmi pemerintah (untuk teks otentik).
  • Situs resmi kementerian/lembaga terkait (untuk pedoman pelaksanaan/juknis jika tersedia).
  • Produk hukum daerah (jika penerapan membutuhkan aturan turunan di daerah).


Responsive Ads