Hasil Thailand vs Myanmar 2-0: Dua Penalti Antar Gajah Perang Menutup Fase Grup ASEAN Championship 2026 dengan Kemenangan Berita24.com - T...
| Hasil Thailand vs Myanmar 2-0: Dua Penalti Antar Gajah Perang Menutup Fase Grup ASEAN Championship 2026 dengan Kemenangan |
Berita24.com - Thailand menutup pertandingan terakhirnya pada fase Grup B ASEAN Championship 2026 dengan kemenangan 2-0 atas Myanmar. Pertandingan Thailand vs Myanmar digelar di Rajamangala Stadium, Bangkok, pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 20.00 waktu setempat. Dua gol kemenangan tuan rumah seluruhnya lahir melalui tendangan penalti yang dieksekusi Worachit Kanitsribampen pada menit ke-11 dan Jehhanafee Mamah pada menit ke-52.
Kemenangan ini memperlihatkan kemampuan Thailand dalam mengendalikan momen penting pertandingan. Meskipun hanya mencatatkan penguasaan bola sebesar 45 persen, Thailand menghasilkan peluang dengan kualitas lebih tinggi. Nilai expected goals atau xG Thailand mencapai 2,19, sedangkan Myanmar hanya membukukan 0,62. Angka tersebut menunjukkan bahwa efektivitas serangan Thailand lebih baik daripada yang terlihat melalui persentase penguasaan bola.
Pertandingan ini menjadi salah satu laga penting dalam rangkaian sepak bola Asia Tenggara karena dimainkan pada hari terakhir fase grup. Thailand memasuki pertandingan sebagai tim dengan peringkat FIFA ke-94 dunia, sementara Myanmar berada di posisi ke-158. Perbedaan peringkat tersebut menempatkan Thailand sebagai favorit, tetapi Myanmar tetap mampu memberikan perlawanan dan bahkan menguasai bola lebih banyak sepanjang pertandingan.
Bagi pembaca yang mengikuti hasil pertandingan olahraga regional, skor 2-0 tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya pertandingan. Myanmar mampu mengimbangi jumlah peluang besar Thailand dan beberapa kali membawa bola ke wilayah pertahanan tuan rumah. Namun, kegagalan mengubah penguasaan bola menjadi peluang berkualitas membuat Myanmar tidak mampu mencetak gol.
Ringkasan Hasil Thailand vs Myanmar
Thailand mengalahkan Myanmar dengan skor 2-0 setelah unggul 1-0 pada babak pertama. Worachit Kanitsribampen membuka keunggulan melalui penalti pada menit ke-11. Jehhanafee Mamah kemudian menggandakan skor, juga dari titik penalti, pada menit ke-52.
Thailand menghasilkan 14 tembakan, sedangkan Myanmar melepaskan 10 percobaan. Kedua tim sama-sama menciptakan dua peluang besar. Thailand mencatatkan 16 sentuhan di kotak penalti Myanmar, sementara tim tamu menghasilkan 11 sentuhan di area pertahanan Thailand.
Statistik tersebut memperlihatkan pertandingan yang lebih berimbang dibandingkan perbedaan posisi kedua tim dalam peringkat FIFA. Myanmar tidak sepenuhnya bertahan dan beberapa kali berhasil membawa permainan ke wilayah Thailand. Perbedaan utama terletak pada ketepatan pengambilan keputusan, kualitas penyelesaian serangan, dan kemampuan Thailand memanfaatkan pelanggaran lawan di dalam kotak penalti.
Informasi Pertandingan
Pertandingan Thailand vs Myanmar merupakan laga Grup B ASEAN Championship 2026. Duel berlangsung di Rajamangala Stadium, Bangkok, yang memiliki kapasitas sekitar 51.552 penonton. Pertandingan dipimpin wasit Y. Ohashi dari Jepang dan tercatat dapat disaksikan melalui OneFootball TV.
Skor akhir pertandingan adalah Thailand 2-0 Myanmar. Thailand unggul 1-0 pada babak pertama dan menambah satu gol pada awal babak kedua. Kedua gol dicetak melalui tendangan penalti.
Thailand Langsung Menekan pada Awal Pertandingan
Thailand memulai pertandingan dengan pendekatan yang terarah. Tim tuan rumah tidak berusaha mempertahankan bola selama mungkin, tetapi memilih mengalirkannya secara cepat menuju area yang dapat membuka pertahanan Myanmar. Pergerakan pemain dari lini tengah dan sisi lapangan memaksa barisan belakang Myanmar bekerja keras sejak menit awal.
Myanmar berusaha merespons dengan meningkatkan intensitas duel dan menjaga jarak antarpemain. Tim tamu mencoba menutup jalur umpan vertikal Thailand serta memaksa lawan mengarahkan bola ke sisi lapangan. Strategi tersebut sempat mengurangi ruang gerak pemain depan Thailand, tetapi tekanan tuan rumah tetap menghasilkan situasi berbahaya di kotak penalti.
Momentum pertama datang pada menit ke-11. Pelanggaran di area terlarang membuat wasit memberikan penalti kepada Thailand. Worachit Kanitsribampen dipercaya menjadi eksekutor. Ia menyelesaikan tugasnya dengan baik dan membawa Thailand memimpin 1-0.
Gol cepat tersebut mengubah arah pertandingan. Thailand tidak lagi harus terburu-buru mengejar gol pembuka. Tim tuan rumah dapat mengatur tempo, memilih waktu untuk menekan, dan menunggu Myanmar meninggalkan ruang ketika mencoba membangun serangan.
Bagi Myanmar, kebobolan pada awal laga menimbulkan persoalan taktis. Mereka harus bermain lebih progresif tanpa membuka terlalu banyak ruang di belakang. Myanmar mulai mempertahankan bola lebih lama dan mencoba mengembangkan serangan melalui kombinasi umpan pendek. Pendekatan itu menjelaskan mengapa tim tamu akhirnya mencatatkan penguasaan bola lebih tinggi.
Penalti Worachit Menjadi Pembeda Babak Pertama
Worachit Kanitsribampen menjadi tokoh utama pada babak pertama. Selain mencetak gol, kehadirannya membantu Thailand menghubungkan lini tengah dengan sektor serangan. Ia bergerak mencari ruang, menawarkan pilihan umpan, serta membantu tim keluar dari tekanan Myanmar.
Keunggulan satu gol memungkinkan Thailand memainkan pertandingan secara lebih terkendali. Ketika Myanmar menguasai bola, pemain Thailand menjaga bentuk pertahanan dan menunggu kesempatan melakukan transisi. Ketika bola direbut, serangan diarahkan dengan cepat menuju ruang yang ditinggalkan pemain Myanmar.
Myanmar sebenarnya mampu membawa bola hingga mendekati kotak penalti Thailand. Namun, sejumlah serangan berhenti sebelum menghasilkan tembakan dengan peluang gol tinggi. Umpan terakhir sering kali tidak menemukan sasaran, sementara pemain Thailand cukup disiplin dalam menutup ruang di depan gawang.
Babak pertama berakhir dengan skor 1-0. Thailand tidak mendominasi penguasaan bola secara mutlak, tetapi unggul dalam kualitas kesempatan. Keunggulan ini menjadi fondasi penting sebelum memasuki babak kedua.
Penalti Kedua Memperbesar Keunggulan Thailand
Babak kedua dimulai dengan intensitas tinggi. Myanmar membutuhkan gol penyama kedudukan, sedangkan Thailand berusaha mencetak gol tambahan sebelum lawan memperoleh momentum. Situasi tersebut membuat permainan menjadi lebih terbuka.
Pada menit ke-51, catatan pertandingan menunjukkan Andersen J. menerima hukuman karena tindakan tidak sportif meskipun sedang tidak berada di lapangan. Satu menit kemudian, Thailand mendapatkan penalti kedua. Jehhanafee Mamah mengambil tanggung jawab sebagai eksekutor dan berhasil mengubah skor menjadi 2-0 pada menit ke-52.
Gol kedua memberikan keuntungan besar bagi Thailand. Dengan selisih dua gol, tim tuan rumah dapat menurunkan risiko permainan dan lebih selektif dalam melakukan tekanan. Myanmar, sebaliknya, harus meningkatkan jumlah pemain yang terlibat dalam serangan.
Jehhanafee Mamah menunjukkan ketenangan dalam momen penting. Tendangan penalti tersebut menjadi bagian yang menentukan dalam hasil pertandingan sepak bola Thailand melawan Myanmar. Ia tidak hanya mencatatkan nama di papan skor, tetapi juga memberi ruang bagi timnya untuk mengendalikan sisa pertandingan.
Myanmar kemudian menerima catatan pelanggaran melalui K. Oo pada menit ke-54. Tekanan untuk mengejar ketertinggalan membuat duel semakin keras. Myanmar mencoba meningkatkan agresivitas, tetapi Thailand mampu menjaga organisasi pertahanan dan mencegah lawan memperoleh jalur tembakan yang bersih.
Myanmar Melakukan Tiga Pergantian Sekaligus
Pada menit ke-59, Myanmar melakukan tiga pergantian pemain secara bersamaan. Hein Htet Aung, Hein Khun Kyaw Zin, dan Aung Shine Wanna dimasukkan untuk menggantikan Aung Wai Lin, Min Zwe Khant, dan Khant Myat Phone.
Keputusan tersebut memperlihatkan upaya Myanmar mengubah ritme permainan. Pergantian dalam jumlah besar biasanya digunakan untuk memperbarui energi, menambah kecepatan, dan memberikan karakter berbeda pada proses serangan. Myanmar membutuhkan pemain yang berani membawa bola serta mampu masuk ke ruang di antara lini tengah dan pertahanan Thailand.
Masuknya pemain baru membuat Myanmar lebih aktif menguasai bola. Namun, peningkatan penguasaan tidak langsung menghasilkan peluang dengan kualitas tinggi. Thailand tetap menjaga kedalaman pertahanannya dan tidak mudah tertarik keluar dari posisi.
Thailand merespons melalui pergantian pada menit ke-62. Nattapong Sayriya ditarik keluar dan digantikan Pansa Hemviboon. Pergantian tersebut membantu menjaga kekuatan sektor pertahanan pada saat Myanmar mulai meningkatkan tekanan.
Pada menit ke-73, Thailand kembali melakukan perubahan. Waris Choolthong masuk menggantikan Narubadin Weerawatnodom, sedangkan Thotsawat Limwannasthian menggantikan Worachit Kanitsribampen. Worachit meninggalkan lapangan setelah memberikan kontribusi besar melalui gol penalti pembuka.
Myanmar melakukan pergantian berikutnya pada menit ke-77 dengan memasukkan Zaw Saw Myo untuk menggantikan Aung Lwin Moe. Pergantian tersebut menjadi bagian dari upaya terakhir Myanmar untuk memperkecil ketertinggalan.
Thailand Lebih Efektif meski Kalah dalam Penguasaan Bola
Salah satu bagian paling menarik dari pertandingan ini adalah perbandingan antara penguasaan bola dan kualitas peluang. Myanmar menguasai bola sebesar 55 persen, sedangkan Thailand hanya mencatatkan 45 persen. Namun, Thailand menghasilkan nilai xG 2,19, jauh lebih tinggi daripada Myanmar yang berada pada angka 0,62.
Expected goals mengukur kualitas peluang berdasarkan sejumlah karakteristik, seperti lokasi tembakan, jenis umpan sebelum tembakan, sudut terhadap gawang, dan situasi permainan. Nilai xG Thailand menunjukkan bahwa tim tuan rumah memperoleh kesempatan mencetak gol dari posisi yang jauh lebih menguntungkan.
Dua penalti tentu memberikan sumbangan besar terhadap nilai xG Thailand. Peluang dari titik penalti memiliki kemungkinan gol yang tinggi karena penendang berhadapan langsung dengan penjaga gawang dari jarak dekat tanpa gangguan pemain bertahan.
Myanmar mungkin lebih lama menguasai bola, tetapi sebagian penguasaan tersebut berlangsung jauh dari area paling berbahaya. Tim tamu mampu mengedarkan bola, namun tidak cukup sering menembus pertahanan Thailand dengan umpan yang menghasilkan situasi satu lawan satu atau tembakan bebas di dalam kotak penalti.
Thailand menghasilkan 14 tembakan atau empat lebih banyak daripada Myanmar. Selisih tersebut tidak terlalu besar, tetapi kualitas tembakan Thailand lebih baik. Inilah alasan Thailand dapat mencetak dua gol, sedangkan Myanmar gagal membobol gawang lawan.
Dua Peluang Besar untuk Masing-Masing Tim
Kedua tim sama-sama menciptakan dua peluang besar. Data tersebut memperlihatkan Myanmar sebenarnya memiliki kesempatan untuk mengubah pertandingan. Namun, peluang besar hanya akan berpengaruh terhadap skor apabila dapat diselesaikan dengan tepat.
Thailand mampu mengubah dua situasi penalti menjadi gol. Myanmar tidak memperoleh hasil serupa dari dua peluang terbaiknya. Perbedaan kemampuan mengeksekusi momen menjadi salah satu faktor utama yang menentukan skor akhir.
Dalam pertandingan internasional, tim sering kali tidak mendapatkan banyak kesempatan. Karena itu, kemampuan memanfaatkan peluang menjadi lebih penting daripada sekadar jumlah penguasaan bola. Thailand memberikan contoh bagaimana sebuah tim dapat menang tanpa menjadi pihak yang paling lama memegang bola.
Sentuhan di Kotak Penalti Menunjukkan Arah Serangan
Thailand mencatatkan 16 sentuhan di kotak penalti Myanmar, sedangkan Myanmar menghasilkan 11 sentuhan di kotak penalti Thailand. Angka ini memperlihatkan bahwa tim tuan rumah lebih sering membawa bola ke wilayah yang dekat dengan gawang lawan.
Selisih lima sentuhan mungkin terlihat kecil, tetapi kualitas setiap penetrasi menentukan tingkat ancamannya. Thailand lebih mampu mengarahkan serangan ke ruang yang memaksa pemain Myanmar melakukan intervensi langsung. Dua intervensi berakhir dengan keputusan penalti.
Myanmar menghasilkan beberapa rangkaian umpan yang baik, tetapi masih mengalami kesulitan pada fase akhir. Ketika memasuki sepertiga akhir, pemain Myanmar sering menghadapi blok pertahanan Thailand yang sudah terbentuk. Ruang untuk melakukan tembakan menjadi sempit dan pilihan umpan semakin terbatas.
Thailand juga cukup baik dalam mengelola transisi bertahan. Setelah kehilangan bola, pemain terdekat segera menutup jalur serangan Myanmar. Pemain lain mundur untuk melindungi ruang di depan kotak penalti. Pola tersebut membantu Thailand mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir.
Pertahanan Thailand Menjaga Gawang Tetap Bersih
Catatan tanpa kebobolan menjadi bagian penting dari kemenangan Thailand. Myanmar memiliki 10 tembakan dan dua peluang besar, tetapi tidak mampu mencetak gol. Hal ini menunjukkan koordinasi yang baik antara penjaga gawang, barisan belakang, dan pemain tengah Thailand.
Pertahanan Thailand tidak selalu berusaha merebut bola secepat mungkin. Dalam beberapa situasi, mereka memilih mempertahankan posisi dan mengarahkan serangan Myanmar menuju area yang kurang berbahaya. Pendekatan tersebut mengurangi kemungkinan tim tamu memperoleh tembakan dari tengah kotak penalti.
Ketika Myanmar mengirim pemain tambahan ke depan, Thailand tidak kehilangan keseimbangan. Pemain belakang tetap menjaga jarak, sedangkan lini tengah membantu menutup ruang umpan. Disiplin ini penting karena satu gol Myanmar dapat mengubah tekanan psikologis dalam pertandingan.
Pada menit ke-89, Thailand melakukan dua pergantian tambahan. Adisorn Promrak masuk menggantikan Chawanwit Saelao, sedangkan Wanchai Jarunongkran menggantikan Jehhanafee Mamah. Myanmar juga memasukkan Khant Aung Myo untuk menggantikan Win N. T.
Pergantian pada akhir pertandingan membantu Thailand mempertahankan energi serta menutup ruang yang mungkin dimanfaatkan Myanmar. Mamah meninggalkan lapangan setelah mencetak gol kedua, sementara pemain bertahan yang lebih segar membantu mengamankan keunggulan.
Pada menit 90+2, Aung Shine Wanna tercatat melakukan pelanggaran. Tidak ada gol tambahan hingga wasit mengakhiri pertandingan. Thailand memastikan kemenangan 2-0 dan mempertahankan catatan tanpa kebobolan dalam laga tersebut.
Perbedaan Peringkat FIFA Terlihat pada Pengelolaan Momen
Thailand berada di peringkat ke-94 FIFA, sedangkan Myanmar menempati posisi ke-158. Selisih 64 tingkat tersebut tidak berarti pertandingan berlangsung sepihak. Myanmar bahkan memiliki penguasaan bola lebih tinggi dan jumlah tembakan yang tidak terlalu jauh dari Thailand.
Perbedaan kualitas terlihat terutama dalam pengelolaan momen. Thailand lebih siap ketika memperoleh peluang, lebih disiplin ketika berada di bawah tekanan, dan lebih tenang setelah unggul. Tim tuan rumah tidak membiarkan perubahan penguasaan bola mengganggu struktur permainannya.
Myanmar memperlihatkan keberanian dalam membangun serangan, tetapi masih perlu meningkatkan kualitas pada umpan terakhir dan penyelesaian peluang. Penguasaan bola sebesar 55 persen dapat menjadi dasar yang positif, tetapi harus diikuti penetrasi yang lebih tajam.
Dalam kompetisi olahraga dengan format fase grup, efektivitas seperti ini sangat menentukan. Setiap gol dapat memengaruhi poin, selisih gol, dan posisi akhir. Karena itu, kemampuan Thailand menjaga keunggulan dua gol memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar memenangkan satu pertandingan.
Dampak Hasil Thailand vs Myanmar terhadap Grup B
Pertandingan ini dimainkan pada hari terakhir fase Grup B ASEAN Championship 2026. Pada hari yang sama, Malaysia dijadwalkan menghadapi Filipina. Kedua pertandingan tersebut berkaitan langsung dengan persaingan posisi akhir grup dan penentuan tim yang berhak melangkah ke semifinal.
Thailand memperoleh tiga poin dari kemenangan atas Myanmar. Hasil tersebut memperkuat posisi Thailand dalam persaingan Grup B, sedangkan Myanmar harus menerima kekalahan pada pertandingan terakhirnya di fase grup.
Pembaca yang mencari informasi mengenai klasemen tim nasional sepak bola Thailand vs tim nasional sepak bola Myanmar perlu memperhatikan bahwa posisi akhir tidak hanya ditentukan oleh hasil laga ini. Perolehan poin dari pertandingan sebelumnya, selisih gol, jumlah gol yang dicetak, dan hasil pertandingan lain di Grup B turut menentukan susunan klasemen.
Hal yang sama berlaku bagi pencarian klasemen tim nasional sepak bola Malaysia vs tim nasional sepak bola Filipina. Pertandingan Malaysia melawan Filipina menjadi bagian lain dari persaingan pada hari terakhir. Dengan seluruh pertandingan grup selesai, barulah posisi setiap tim dapat ditentukan secara lengkap berdasarkan regulasi turnamen.
Dua tim terbaik dari masing-masing grup melaju ke semifinal. Babak gugur ASEAN Championship 2026 dimainkan dalam dua leg, sehingga konsistensi, kedalaman skuad, dan kemampuan mengelola pertandingan kandang serta tandang akan menjadi faktor penting.
Thailand Memperlihatkan Kedalaman Skuad
Pergantian pemain Thailand menunjukkan bahwa tim tersebut memiliki beberapa pilihan untuk menjaga kualitas permainan. Pemain seperti Pansa Hemviboon, Waris Choolthong, Thotsawat Limwannasthian, Adisorn Promrak, dan Wanchai Jarunongkran dapat dimasukkan tanpa membuat struktur tim berubah secara drastis.
Kedalaman skuad sangat diperlukan dalam turnamen dengan jadwal padat. Pemain menghadapi waktu pemulihan yang terbatas, perjalanan antarkota atau antarnegara, serta risiko cedera. Pelatih harus membagi menit bermain sambil mempertahankan kestabilan tim.
Thailand juga memperlihatkan fleksibilitas dalam memilih eksekutor penalti. Worachit mengambil penalti pertama, sedangkan Mamah mengeksekusi penalti kedua. Keduanya mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Keberadaan lebih dari satu pemain yang siap mengambil penalti memberi keuntungan dalam pertandingan dengan tekanan tinggi.
Worachit berperan dalam membangun permainan dan membuka skor. Mamah memberikan ancaman dari lini depan dan menggandakan keunggulan. Setelah kedua pemain ditarik keluar, Thailand tetap mampu menjaga skor hingga peluit akhir.
Catatan yang Perlu Diperbaiki Myanmar
Myanmar dapat mengambil sejumlah pelajaran dari pertandingan ini. Pertama, penguasaan bola harus menghasilkan lebih banyak penetrasi. Menguasai 55 persen permainan menunjukkan kemampuan mempertahankan bola, tetapi nilai xG 0,62 memperlihatkan bahwa sebagian besar serangan belum menghasilkan ancaman besar.
Kedua, disiplin di dalam kotak penalti harus diperbaiki. Dua penalti yang diberikan kepada Thailand menjadi sumber seluruh gol dalam pertandingan. Dalam laga dengan selisih kualitas yang cukup besar, memberikan dua kesempatan penalti membuat peluang meraih hasil positif semakin kecil.
Ketiga, Myanmar perlu meningkatkan penyelesaian akhir. Dua peluang besar seharusnya dapat menghasilkan setidaknya satu gol apabila dieksekusi dengan baik. Kegagalan memanfaatkan peluang membuat tekanan terhadap Thailand tidak berkembang.
Meski kalah, Myanmar menunjukkan beberapa aspek yang dapat dikembangkan. Tim tersebut berani menguasai bola, menghasilkan 10 tembakan, dan tidak sepenuhnya berada di bawah tekanan. Dengan peningkatan pada fase akhir serangan, performa semacam ini dapat memberikan hasil yang lebih baik pada pertandingan berikutnya.
Thailand Menang melalui Efisiensi dan Disiplin
Hasil Thailand vs Myanmar memperlihatkan bahwa kemenangan tidak selalu ditentukan oleh penguasaan bola tertinggi. Thailand hanya memegang bola selama 45 persen waktu pertandingan, tetapi menghasilkan xG 2,19, melepaskan 14 tembakan, mencatatkan 16 sentuhan di kotak penalti lawan, dan mencetak dua gol.
Myanmar menguasai bola lebih lama, tetapi hanya menghasilkan xG 0,62. Perbandingan tersebut menjadi gambaran jelas mengenai perbedaan antara memiliki bola dan menggunakan bola secara efektif.
Dua penalti memang menjadi penentu skor, tetapi kemenangan Thailand juga dibangun melalui organisasi pertahanan, transisi yang terukur, dan pengelolaan pertandingan setelah unggul. Tim tuan rumah tidak kehilangan kendali meskipun Myanmar meningkatkan tekanan pada babak kedua.
Worachit Kanitsribampen membuka jalan melalui penalti pada menit ke-11. Jehhanafee Mamah memperbesar keunggulan pada menit ke-52. Setelah itu, Thailand mengelola tempo, melakukan pergantian yang sesuai, dan menjaga gawang tetap bersih sampai pertandingan berakhir.
Bagi penggemar sepak bola Asia Tenggara, pertandingan ini memberikan gambaran tentang kekuatan Thailand dalam menghadapi situasi turnamen. Mereka tidak harus mendominasi setiap bagian permainan untuk memperoleh kemenangan. Ketepatan dalam membaca momen dan kemampuan menyelesaikan peluang menjadi dasar keberhasilan.
Fakta Utama Pertandingan Thailand vs Myanmar
Thailand menang 2-0 atas Myanmar dalam pertandingan Grup B ASEAN Championship 2026 pada 8 Agustus 2026. Pertandingan berlangsung di Rajamangala Stadium, Bangkok, dengan kapasitas sekitar 51.552 penonton.
Worachit Kanitsribampen mencetak gol pertama melalui penalti pada menit ke-11. Jehhanafee Mamah mencetak gol kedua, juga melalui penalti, pada menit ke-52. Skor babak pertama adalah 1-0 untuk Thailand.
Thailand mencatatkan xG 2,19, sedangkan Myanmar menghasilkan 0,62. Myanmar unggul dalam penguasaan bola dengan 55 persen berbanding 45 persen. Thailand menghasilkan 14 tembakan, sementara Myanmar melepaskan 10 tembakan.
Kedua tim sama-sama memiliki dua peluang besar. Thailand mencatatkan 16 sentuhan di kotak penalti lawan dan Myanmar menghasilkan 11 sentuhan. Wasit pertandingan adalah Y. Ohashi dari Jepang, sementara saluran yang tercantum untuk pertandingan ini adalah OneFootball TV.
Kemenangan 2-0 menegaskan efektivitas Thailand pada laga terakhir fase grup. Dua eksekusi penalti yang akurat, pertahanan yang disiplin, serta pengelolaan tempo yang matang membuat Myanmar gagal mengubah penguasaan bolanya menjadi gol.