Berita 24 Indonesia - Seiring dengan berkuasanya kembali Taliban di Afghanistan dan penarikan mundur pasukan asing dari negara itu. D ikuti...
AS menginvasi Afghanistan dan melengserkan Taliban pada
Oktober 2001 dengan alasan kelompok tersebut menyembunyikan Osama Bin Laden dan
sejumlah petinggi Al-Qaeda lainnya yang terkait dengan serangan 11 September 2001.
Jumlah personel militer dan bantuan yang dikirim Washington pun bertambah untuk
memerangi perlawanan Taliban dan mendanai rekonstruksi di Afghanistan. Perlu diketahui, pada tahun 2011, serdadu AS
mencapai 110.000 orang.
Tahun lalu, jumlah serdadu AS hanya tersisa 4.000 orang, tetapi data tersebut tidak mencakup
pasukan operasi khusus dan unit-unit sementara. Negara-negara lain juga mengirimkan pasukan mereka ke Afghanistan, termasuk
sejumlah anggota NATO.
Selain personel militer, ada pula kontraktor keamanan swasta
yang ditugaskan di
Afghanistan. Hingga akhir kuartal terakhir 2020, tercatat lebih dari 7.800
warga AS yang terlibat
di bidang yang sama.
Sebagian besar pengeluaran AS sejak tahun 2010 hingga 2012 mencapai US$100 miliar per tahun,
menurut data pemerintah AS. Namun,
ketika militer AS mengalihkan fokusnya dari operasi serang ke pelatihan militer
Afghanistan, biaya yang dikeluarkan merosot drastis.
Pada 2018, Departemen
Pertahanan melaporkan pengeluaran tahunan sekitar US$45 miliar. Dephan AS menambahkan, biaya total yang dikeluarkan antara 2001 hingga 2019 mencapai
US$822 miliar. Jumlah itu belum termasuk pengeluaran di Pakistan, tempat AS
mendirikan pangkalan militer untuk operasi tempur terkait Afghanistan.
Inggris dan Jerman sebagai sekutu AS juga ikut memerangi Taliban dengan mengirim pasukan militer dan bantuan
ke Afghanistan setelah masing-masing menghabiskan sekitar US$30 miliar dan US$19 miliar
sepanjang operasi dilakukan.
Sebagian besar dana dipakai untuk keperluan pasukan, seperti makanan, pakaian,
obat-obatan, gaji, dan tunjangan.
Sumber: BBC
News.com
Tags:
Perang Taliban, AS dan Sekutu, Afghanistan vs Taliban.
