Page Nav

HIDE

Gradient Skin

Gradient_Skin

Pages

Runtuhnya Kemanusiaan Akibat COVID-19

Di tengah pandemi COVID-19 ini, himbauan  Social Distancing  dari pemerintah disalahkan artikan masyarakat. Jaga jarak yang diterapk...

Di tengah pandemi COVID-19 ini, himbauan Social Distancing dari pemerintah disalahkan artikan masyarakat. Jaga jarak yang diterapkan masyarakat malah kebablasan. Akibat tindakan ini, sejumlah pasien COVID-19 dan tenaga medis yang menangani kasus ini dimusuhi. Yang paling miris adalah mobil-mobil jenazah pasiean COVID-19 diblokade hingga dilempari batu. Tentu kewaspadaan ini sangat tak berkemanusiaan.
Melakukan Social Distancing menunjukkan masyarakat sudah mengerti betapa virus ini tidak bisa dianggap remeh, namun beberapa dari kita melakukannya sampai melawati batas.  Dalam artikel yang berjudul "Stop Stigmatisasi Penderita COVID-19 dan Tenaga Medis," Direktur Utama RSUD Persahabatan Jakarta, Rita Goyah menyatakan beberapa tenaga medis yang menangani pasien COVID-19 malah ditolak tinggal di kosan karena kekhawatiran mereka membawa pulang virus (Firdaus, 01/04/2020). Media seperti Tirto.ID bahkan menyebutkan warga Desa Tumiyang, Kecamatan Pekuncen, Banyumas, Jawa tengah beramai-ramai memblokade jalan masuk desa lantaran resah dengan berita akan diadakannya pemakaman warga yang terinfeksi virus Corona (3/4/2020). Juga, dalam beberapa unggahan di akun twitter milik Cella @AkuDiyem dijelaskan bahwa Dinas Kesehatan Banyumas menguburkan dua jenazah di desa Tumiyang tanpa izin warga setempat namun karena diketahui mayat tersebut berasal dari Purwokerto, mereka berbondong-bondong membongkar kuburan itu, bahkan Bupati Banyumas Ahmad Husein juga turun tangan. Bukankah ini sangat kejam? Padahal secara ilmiah, virus juga akan ikut mati bila inangnya sudah meninggal dunia. Sehingga, kemungkinan virus itu menular sangat kecil. Penjelasan itu bukan satu-satunya alasan untuk melakukan penolakan terhadap jenazah COVID-19, protokol keamanan pemakaman juga tentu sudah dilaluinya.
Mungkin dengan cara ini virus menular itu bisa dimusnahkan, namun kemanusiaan di negara kita juga ikut hancur. Ungkapan "jauhi penyakitnya, bukan orangnya" perlu kita pegang. Pandemi ini menjadi tantangan kemanusiaan di setiap negara. Dari pada memusuhi para terdampak, kita perlu mendukung mereka, terutama para tenaga medis yang berada di garda terdepan. Jaga jarak perlu dilakukan tapi kebersamaan kita perlu dirapatkan.


Penulis: Muh Ikhsan
No. Hp: 085776455317
Sumber: Tirto.ID
Gambar: Kronologi.id