Page Nav

HIDE

Gradient Skin

Gradient_Skin

Responsive Ad

Uni Eropa Hentikan Penggunaan Minyak Kelapa Sawit, Indonesia dan Malaysia Protes

Perkebunan kelapa sawit di Batanghari, Jambi. Foto: Antara Berita24.com – Indonesia dan Malaysia berencana untuk mengajukan keluhan ...

Perkebunan kelapa sawit di Batanghari, Jambi. Foto: Antara

Berita24.com – Indonesia dan Malaysia berencana untuk mengajukan keluhan bersama terhadap Uni Eropa di Organisasi Perdagangan Dunia mengenai keputusannya untuk menghentikan penggunaan minyak kelapa sawit dalam bahan bakar nabati pada tahun 2023, dilansir AsiaTimes.

Pemberhentian penggunaan minyak kelapa sawit dapat membuat dua produsen global minyak kelapa sawit yaitu Indonesia dan Malaysia kehilangan miliaran dolar.
 
Ancaman pelarangan minyak kelapa sawit datang karena Uni Eropa terlihat semakin tidak mungkin untuk mundur dalam kesepakatan tersebut setelah pihak-pihak sebuah kelompok politik ‘Aliansi Bebas Hijau-Eropa’ meraih kemenangan besar pada pemilihan Eropa pada bulan Mei.

Pada pemungutan suara itu Aliansi Bebas Hijau-Eropa mengambil 63 dari 751 kursi di Parlemen Eropa, hampir dua kali lipat jumlah yang mereka menangkan pada pemilihan sebelumnya. Sekitar 75 anggota Parlemen Eropa (MEPs) sekarang menjadi bagian dari kelompok Hijau tersebut. 

Akan tetapi, ternyata pengaruh kelompok Hijau jauh lebih besar dari jumlah yang mereka tunjukkan.
Pengaruh kelompok Hijau atas tindakan Uni Eropa (UE) menjadi hal buruk bagi Malaysia dan Indonesia. Dengan gerakan Hijau yang bangkit kembali, membuatnya memenangkan lebih banyak kekuatan di UE. Peluang untuk membatalkan larangan minyak sawit yang dijanjikan bahkan lebih kecil kemungkinannya sekarang, kata para analis.

Sementara, budidaya tanaman kelapa sawit telah menyebabkan kerusakan besar pada burung-burung Indonesia dan Malaysia. Misalnya saja di Sumatra, lebih dari 75 persen dari 102 spesies burung dataran rendah yang bergantung pada hutan sekarang dianggap terancam secara global.

Reponsive Ads