Ilustrasi. Foto: MIT News Berita24.com - Para peneliti di Bangkok mengatakan obat utama yang digunakan untuk mengobati jenis malaria...
![]() |
| Ilustrasi. Foto: MIT News |
Berita24.com - Para peneliti di Bangkok mengatakan obat utama
yang digunakan untuk mengobati jenis malaria, kini tidak lagi efektif di
beberapa bagian Asia Tenggara, dilansir AsiaTimes.
Perelawanan terhadap parasit yang menyebabkan
malaria terbukti sulit di Asia Tenggara. Para peneliti mengatakan varian
malaria falciparum yang berkembang cepat terbukti tahan terhadap obat-obatan
utama.
Hal ini menyebabkan tingkat kegagalan pengobatan
yang sangat tinggi di Kamboja, Thailand dan Vietnam, dengan menggunakan
DHA-piperaquine, salah satu obat anti-malaria yang paling penting di dunia.
Penemuan ini didokumentasikan oleh para peneliti
University of Oxford dalam sebuah penelitian yang diterbitkan hari ini di The
Lancet Infectious Diseases.
Penulis penelitian mengatakan DHA-piperaquine tidak
boleh lagi digunakan untuk mengobati malaria falciparum di Kamboja, Vietnam dan
timur laut Thailand karena tidak lagi efektif dan malah akan berkontribusi pada
peningkatan penularan malaria.
Menanggapi hal tersebut, para peneliti ingin
tindakan segera untuk menghilangkan malaria falciparum, untuk mencegah penyebaran
malaria ke bagian lain di Asia dan Afrika, agar malaria tidak menjadi penyakit
dengan status ‘darurat kesehatan global.’
“Kita perlu segera menghilangkan malaria di wilayah
ini dan bertindak sekarang untuk mencegah penyebaran parasit multi-obat ini ke
bagian lain di Asia dan Afrika Sub-Sahara. Ketika resistensi terhadap obat
anti-malaria sebelumnya muncul di Asia Tenggara dan menyebar ke Afrika-jutaan
anak meninggal sebagai akibatnya. ” ujar Sir Nick White, profesor di
Universitas Oxford.
Mutasi parasit malaria, menjadi sebuah babak baru
dari perjuangan global melawan penyakit mematikan ini.
