www.AlvinAdam.com

LANGGANAN GRATIS!

Ketikan alamat email anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Berita 24 Indonesia

Terpopuler Bulan Ini

Pantai Terpencil di Australia Penuh Sampah, Diduga dari Indonesia

Posted by On 07.54

Pantai Terpencil di Australia Penuh Sampah, Diduga dari Indonesia

Kelompok polisi hutan mengatakan pantai-pantai yang dulunya tidak terjamah telah menjadi kawasan penimbunan sampah.(Supplied: Blue Douglas) Kelompok polisi hutan mengatakan pantai-pantai yang dulunya tidak terjamah telah menjadi kawasan penimbunan sampah.

KOMPAS.com - Sebuah video yang beredar didunia maya dan telah dilihat oleh jutaan orang di seluruh dunia menunjukan seorang penyelam berenang melalui perairan Indonesia yang penuh dengan polusi plastik. Menurut penyelam itu, skala ini belum pernah dilihat sebelumnya.

Namun, salah satu garis depan dari masalah global ini justru terjadi jauh dari sorotan, yakni d i pantai-pantai terpencil Australia yang begitu murni dan terlindungi dengan baik, bahkan beberapa di antaranya membutuhkan izin bagi orang untuk dapat menginjakkan kaki di sana.

"Itulah gambaran yang akan Anda bayangkan ketika Anda pergi ke pantai-pantai ini - mereka sangat terpencil dan benar-benar tak tersentuh," kata Luke Playford, seorang fasilitator bagi masyarakat pribumi Australia pada Korporasi Abiminar Dhimurru di negara bagian Northern Territory.

Kenyataannya, sekelompok polisi hutan justru menghabiskan waktu selama berjam-jam setiap minggunya untuk membersihkan pantai yang tak tersentuh oleh manusia, tetapi dipenuhi sampah manusia - dan upaya mereka itu masih belum cukup.

Baca juga: Miris, Para Pendaki Tinggalkan Banyak Sampah di Gunung Tertinggi Dunia

Secara historis sampah-sampah di pantai tersebut umumnya berasal dari limbah perikanan. Akan tetapi, belakangan ini semakin didominasi oleh limbah domestik, seperti sikat rambut, botol sampo dan gantungan baju.

"Salah satu yang terbesar jumlahnya adalah celana dalam - celana dalam yang dibuang, sikat gigi dan korek api, sedikit limbah medis," kata Luke Playford.

Limbah-limbah itu juga berdatangan dalam jumlah yang lebih besar dibandingkan kemampuan petugas polisi hutan dalam membersihkan pantai tersebut. Mereka bertugas menjaga pantai sepanjang 70 kilometer yang dikotori oleh serpihan limbah dari laut yang berada dalam Wilayah Perlindungan Adat.

"Tahun lalu adalah tahun terbesar dalam catatan kami terkait serpihan limbah laut [yang ditemukan] di garis pantai kami. Jadi saya pikir pola ini akan terus berlanjut," katanya.

Kemungkinan berasal dari Indonesia

Dr Frederieke Kroon, seorang ilmuwan peneliti di Institut Ilmu Kelautan Australia, meyakini praktek pembuangan sampah yang buruk ditambah pergerakan air setempat telah membentuk hotspot limbah.

Dia juga menj elaskan kecurigaan masyarakat setempat bahwa sampah-sampah itu kemungkinan telah memasuki Teluk Carpentaria dari Indonesia dan dibawa ke Cape Arnhem oleh berbagai kondisi.

"Arus dan arah angin sepanjang tahun ini tentu akan berkontribusi pada serpihan limbah yang terakumulasi di pantai-pantai itu," katanya.

"Arus di teluk ini bentuknya sangat-sangat bulat - mereka berputar dan terus berputar-putar."

Tumpukan kantong sampah yang dipenuhi limbah domestik seperti sikat gigi, gantungan baju dan plastik keras. (Supplied: Blue Douglas) Tumpukan kantong sampah yang dipenuhi limbah domestik seperti sikat gigi, gantungan baju dan plastik keras.

Khawatir dengan skala dari sampah-sampah di pantai di Arnheim Land, Luke Playford mulai memotret kemasan dan negara asal dari limbah-limbah itu dan menemukan bahwa sebagian besar limbah itu berasal dari wila yah Indo-Pasifik.

Dia juga telah melihat pemodelan yang menunjukkan sampah memasuki Teluk Carpentaria berkat angin barat laut yang melakukan perjalanan dari wilayah Indonesia setiap musim hujan.

Baca juga: Ribuan Sampah plastik Ada di Titik Terdalam Lautan, Ini Artinya

"Ketika musim berganti dan kami memasuki musim kemarau, angin dari asia tenggara bertiup dan mendorong limbah itu ke pantai-pantai yang berada di sisi barat Teluk," katanya.

"Tapi saya pikir limbah-limbah itu tidak tersapu kembali oleh hujan di awal musim. Sebagian bisa jadi terkubur di bawah pasir di pantai."

"Peristiwa topan kadang-kadang bisa menyebabkan limbah itu tergali dan disapu kembali ke laut, tetapi tujuan kami adalah mencegah sampah-sampah itu sampai di pantai dan untuk mencegah hal itu terjadi."

Warga Nhulunbuy sangat te   rkejut dengan banyaknya sampah, dia menghabiskan waktu seharian untuk mengangkut sampah itu dengan mobil truknya. (Supplied: Blue Douglas) Warga Nhulunbuy sangat terkejut dengan banyaknya sampah, dia menghabiskan waktu seharian untuk mengangkut sampah itu dengan mobil truknya.

Bekas gigitan satwa laut di plastik

Dalam beberapa minggu ke depan, penyu akan berusaha mencapai pesisir Cape Arnhem untuk bertelur selama musim bersarang tahun ini.

"Bagi penyu itu, keluar dari laut dan harus melalui ranjau sampah plastik dan limbah, lalu mencoba untuk menggali melalui berbagai limbah tersebut di pasir untuk dapat meletakkan telur-telur adalah tantangan yang besar," kata Luke Playford.

Bukan hanya kura-kura yang terkena dampak

Luke Playford dan timnya juga telah melihat bekas gigitan dari kehidupan laut pada benda-benda plastik dan meyakini beberapa dari hewan laut telah memakannya dan mati.

Selain itu, kawasan pantai terpen cil di Arnheim Land itu juga memiliki nilai budaya yang signifikan bagi masyarakat Aborijin Yolngu setempat, yang menjadi faktor mengapa para polisi hutan melakukan penjagaan di kawasan itu.

"Ini di luar kemampuan kami untuk membersihkan seluruh pantai itu setiap tahun, jadi kami harus memprioritaskan di mana kami memfokuskan upaya kami," kata Luke Playford.

"Dan sudah pasti didasarkan pada pertimbangan, nilai-nilai budaya dari lansekap di kawasan ini."

Limbah-limbah ini juga mengalihkan perhatian dari tugas-tugas lain di musim sibuk ketika mereka harus berpatroli di darat dan air, melayani lokasi perkemahan, dan melakukan pembakaran pada musim kering.

Sebaliknya, tim Luke Playford secara teratur menghabiskan setengah hari bepergian ke beberapa pantai dan setengah hari membersihkan pantai itu dari sampah dari laut, sebelum mensurvei limbah yang akhirnya akan berakhir di TPA.

"Anda hanya mampu melakukan pembersihan sampai se jauh ini dan kemudian Anda harus kembali keesokan harinya atau beberapa hari kemudian untuk melanjutkan upaya pembersihan itu," katanya.

"Saya pikir kita perlu mengatasi masalah pada sumbernya dan mencoba membantu negara-negara ini dengan sistem pengelolaan limbah mereka untuk menghentikan plastik memasuki samudra sejak awal," imbuhnya.

"Itu tidak hanya terjadi di Indonesia, itu terjadi di seluruh dunia. Kami hanya mengalami masalah limbah dari sana datang ke sini," tutupnya.


Berita Terkait

Miris, Para Pendaki Tinggalkan Banyak Sampah di Gunung Tertinggi Dunia

Soal Tong Sampah Jerman, Ini Beda Pengelolaannya dengan Indonesia

Ribuan Sampah plastik Ada di Titik Terdalam Lautan, Ini Artinya

Krisis Sampah Plastik Ancam Indonesia, Seberapa Parahkah Kondisinya?

Kumpulan Sampah di Samudra Pasifik Kini Hampir Seluas Indonesia

Terkini Lainnya

Benarkah Astronom Telah Temukan Material Alam Semesta yang Hilang?

Benarkah Astronom Telah Temukan Material Alam Semesta yang Hilang?

Fenomena 23/06/2018, 21:07 WIB Pantai Terpencil di Australia Penuh Sampah, Diduga dari Indonesia

Pantai Terpencil di Australia Penuh Sampah, Diduga dari Indonesia

Fenomena 23/06/2018, 20:06 WIB Peta Udara India Terlihat Berbeda dari Antariksa, Apa Sebabnya?

Peta Udara India Terlihat Berbeda dari Antariksa, Apa Sebabnya?

Fenomena 23/06/2018, 19:07 WIB Terbukti, Konsumsi Tinggi Garam Perbesar Risiko Kematian Pengidap Hipertensi

Terbukti, Konsumsi Tinggi Garam Perbesar Risiko Kematian Pengidap Hipertensi

Kita 23/06/2018, 18:06 WIB Bisakah Dinosaurus Dikloning Seperti 'Jurassic World 2'? Ini Kata Ahli

Bisakah Dinosaurus Dikloning Seperti "Jurassic World 2"? Ini Kata Ahli

Fenomena 23/06/2018, 17:00 WIB Bukti Keberadaan Lubang Hitam Langka Ini Selesaikan Perdebatan Ahli

Bukti Keberadaan Lubang Hitam Langka Ini Selesaikan Perdebatan Ahli

Fenomena 23/06/2018, 12:05 WIB Jerman Segera Uji Coba Taksi Terbang di Kota Ingolstadt

Jerman Segera Uji Coba Taksi Terbang di Kota Ingolstadt

Fenomena 23/06/2018, 08:08 WIB Peringatan dari Fosil Kera di Kuburan Keluarga Kerajaan China

Peringatan dari Fosil Kera di Kuburan Keluarga Kerajaan China

Oh Begitu 23/06/2018, 07:06 WIB Anak    Dipisahkan dari Orangtua Bisa Alami Trauma Berkepanjangan

Anak Dipisahkan dari Orangtua Bisa Alami Trauma Berkepanjangan

Kita 22/06/2018, 21:03 WIB Einstein Terbukti Benar, Teori Relativitas Umum Bekerja di Galaksi Lain

Einstein Terbukti Benar, Teori Relativitas Umum Bekerja di Galaksi Lain

Fenomena 22/06/2018, 20:33 WIB Terkena Sinar Laser dari 'Pointer', Mata Anak Ini Terancam Buta

Terkena Sinar Laser dari "Pointer", Mata Anak Ini Terancam Buta

Kita 22/06/2018, 20:05 WIB Idap Penyakit Kul   it Langka, Bayi Ini Harus Mandi Cairan Pemutih

Idap Penyakit Kulit Langka, Bayi Ini Harus Mandi Cairan Pemutih

Fenomena 22/06/2018, 19:32 WIB Misi Pembersihan Sampah Luar Angkasa Meluncur, Begini Cara Kerjanya

Misi Pembersihan Sampah Luar Angkasa Meluncur, Begini Cara Kerjanya

Fenomena 22/06/2018, 19:02 WIB Temuan Baru: Konsumsi Kopi Dapat Lindungi Jantung

Temuan Baru: Konsumsi Kopi Dapat Lindungi Jantung

Kita 22/06/2018, 18:34 WIB Alasan Kita Menguap, dan Mengapa Menguap Itu Menular

Alasa n Kita Menguap, dan Mengapa Menguap Itu Menular

Oh Begitu 22/06/2018, 18:07 WIB Load MoreSumber: Google News Network: Liputan 24 Indonesia | Berita 24 Indonesia | Warta 24 Indonesia

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »