www.AlvinAdam.com

Berita 24 Indonesia

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Karena Bahasa Indonesia di Dadaku

Diposting oleh On 02.47

Karena Bahasa Indonesia di Dadaku

logo

Foto: Yajugaya via Instagram

Senin, 28 Mei 2018

Sebagai anak jaman now, sudah wajib hukumnya bagi Sandra Melanie untuk berbagi dokumentasi pribadinya di media sosial. Kebetulan belum lama ini ia baru saja berlibur di Tebing Keraton, Bandung. Oleh-olehnya ratusan foto selfie dan swa foto bersama keluarga. Saking banyaknya ia kebingungan memilih foto yang akan diunggah.

Sandra bukan selebgram, followers di akun Instagramnya juga belum genap seribu, tapi perkara memilih foto tidak bisa asal comot. Belum lagi urusan membuat keterangan foto. Kombinasi yang bagus antar keduanya niscaya akan membuat tombol hati merah mengalir sendiri. Sandra biasa menyematkan kata-kata bijak, puitis, maupun kalimat lain yang biasanya tak ada hubungan dengan foto.

Kira-kira begitulah kebiasaan anak-anak milenial membuat keterangan foto. Tak perlu harus ‘berguru’ dulu kepada Kahlil Gibran, Pablo Neruda, atau Sapardi Djoko Damono, sebab kalimat keren itu bertebaran di internet. Apa pun gaya caption yang Sandra pakai, ada satu pakem yang seolah harus ia taati, yaitu menggunakan bahasa Inggris. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya Sandra tidak pandai berbahasa inggris. Pekerjaannya sebagai pemasaran di perusahaan distributor pun tak menuntut Sandra jago berbahasa Inggris.

“Nggak tahu ya tapi kalau pakai caption bahasa Inggris itu rasanya keren. Bikin update status di media sosial lain juga kalau bisa pakai bahasa Inggris,” ujarnya. Sampai suatu kali Sandra disindir temannya dengan sebuah guyonan. “Dia bilang kalau pakai ATM terus nggak sengaja kepencet menu bahasa Inggris, paling lu juga gelagapan.”

Kami anggap itu persaingan biasa. Yang menang tetap bahasa Indonesia.”

Randhy Prasetya, pendiri Yajugaya

Entah kenapa, banyak orang suka menyelipkan banyak kutipan dalam bahasa Inggris dalam percakapan, juga kala menulis di sosial media. Tapi Randhy Prasetya memilih jalan lain. Sejak mulai menggunakan Facebook di tahun 2007, Randhy konsisten menggunakan bahasa Indonesia untuk menulis apa pun di lamannya. Status yang ia buat pada dasar nya sama seperti orang pada umumnya. Mulai dari persoalan galau, cinta-cintaan, sampai refleksi berbagai macam hal yang terjadi di lingkungan sekitar.

Bedanya, Randhy membuat status Facebook lalu dikemas dengan kalimat bergaya sastrawi. Tak seperti sastrawan yang membuat syair dengan ‘bahasa dewa’, Randhy membuat kalimat yang ia rangkai menjadi singkat, padat namun memiliki pesan menohok. Seperti misalnya, ‘Hati tak pernah mencari, ia jatuh sendiri.’ “Orang menganggap bahasa Inggris lebih universal dan tidak bisa dipersalahkan. Tapi dalam kehidupan sehari-hari sudah sekian banyak kita berhutang banyak kepada bahasa Indonesia. Dan aku mau mulai balas budi dengan mengeskpresikan apa yang ingin aku katakan di media sosial,” ujar Randhy.

Justru dengan bahasa Indonesia sederhana, kata-kata yang diracik Randhy bisa menyihir banyak orang. Bahkan sempat membuat pacarnya salah paham “Ketika statusku mulai dapat banyak perhatian, pacarku sampai tanya 'Itu kamu begitu?' Saya jawab oh bukan, itu tentang orang lain. Karena di saat aku menulis demikian, dipikir aku yang begitu. Karena wajar itu akun pribadi,” dia menuturkan.

Randhy lantas sadar bahwa kalimat yang ia buat mempunyai daya jual tinggi. Ia kepikiran untuk menjadikan buah pikirannya sebagai bisnis. Awalnya di tahun 2010 Randhy bekerjasama dengan seorang teman yang jago menggambar. Randhy kebagian tugas membuat kutipan, sementara temannya membuat ilustrasi. Hasil karya mereka dipromosikan melalui Facebook. Sayang, karya mereka kurang dapat sambutan positif.

Mereka ubah strategi. Tak lagi menggunakan gambar, Randhy mencetak kutipan di atas kaus dengan merek Yajugaya. Dengan harapan ketika membaca kata-kata yang te lah disusun dan diolah sedemikian rupa, dalam hati orang akan berujar, ‘ya juga ya!’ Kutipan-kutipan yang dibuat Randhy dicetak di atas kaus berwarna hitam dan putih polos. Di antara kutipan itu seperti ‘Tak ada yang tak mungkin, mungkin tak ingin’, ‘Jangan perkeruh situasi kecuali situasu’, ‘Negeri sedang berproses dan baktimu cuma protes.’ Sejak saat itu Randhy mulai aktif mempromosikan kaus melalui akun Instagram @yajugaya.

Meski memiliki kemampuan meracik kata-kata dalam bahasa Indonesia, Randhy justru merupakan lulusan sastra Belanda di Universitas Indonesia. Keahlian mengolah kata baku berasal dari hobinya berakting di atas panggung teater sejak duduk di bangku SD. Kini Randhy masih akrab dengan teater aliran realis. Randhy memilih kaus sebagai mediumnya karena satu alasan khusus. Kaus tak hanya dipandang sebagai pakaian semata, tapi bisa jadi pernyataan sikap pemakainya.

“Bisa dibilang, apa yang kamu pakai mencerminkan apa yang ingin kamu sampai kan. Mereka bangga karena gila ya, ternyata bahasa Indonesia bisa dibikin sekeren ini,” katanya. Satu potong kaus Yajugaya dibanderol paling murah Rp 190 ribu. Tak murah untuk ukuran kaus sablon. “Alasannya adalah karena kutipan itu tidak kami kerjakan dengan sembarangan. Kedua, kami tidak ingin pembeli memilih kata dengan sembarangan. Kalau kami jual dengan harga Rp 50 ribu, dia akan memilih nggak selektif lagi. Dijual bukan berarti harus dibeli tapi juga mencuri perhatian.”

Kini bersama delapan orang timnya, Randhy tak hanya berpromosi melalui media daring. Yajugaya rajin mengikuti pameran atau bazaar. Saat berpameran, kaus-kaus Yajugaya malah sering dapat pembeli murid-murid sekolah internasional. Dalam sebulan Yajugaya dapat memproduksi hingga 600 kaus per bulan. Randhy Juga melayani permintaan perusahaan atau perorangan yang ingin dibuatkan kalimat untuk slogan atau tagline. Seperti lembaga Indonesia Corruption Watch yang dibuatkan tagline bertemakan korupsi. Atau N idji yang membuat tagline untuk lagu berjudul Ibu. Mereka juga sempat diminta membuat punchline film 'Cinta Selamanya' yang dibintangi Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan.

Seperti biasa, barang yang laris, maka banyak pula yang meniru. Makin banyak yang mengenal Yajugaya, makin sering Randhy menemui plagiat. Ada pula pesaing bisnis yang mencuri ide dan menjual produk dengan banting harga. Namun bagi Randhy, peniru tak jadi persoalan bagi Yajugaya.

“Ketika mereka tahu bahwa ini punya selling point yang bagus, maka mereka akan jual yang sama. Tapi kami anggap itu persaingan biasa. Yang menang tetap bahasa Indonesia,” ujar Randhy. “ Harapannya semoga kami bisa jadi penyeimbang dengan mereka yang berpikir bahas a Inggris lebih menjual. Ternyata bahasa Indonesia juga punya daya jual yang cukup baik.” Dalam berpromosi, Yajugaya juga tidak pernah melakukan endorse. “Sampai kapan pun kami nggak mau endorse. Karena kami ingin lihat dengan kesederhanaan kami, sampai sejauh mana bisa bertahan.”

Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]Sumber: Google News Indonesia | Berita 24 Indonesia

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »