www.AlvinAdam.com

Berita 24 Indonesia

Gratis Berlangganan

Tuliskan Alamat Email Anda. Gratis!

Delivered by FeedBurner

Kisah relawan guru di Asmat, Papua: 'Apakah saya dapat makan hari ini, Pak Guru?'

Diposting oleh On 19.18

Kisah relawan guru di Asmat, Papua: 'Apakah saya dapat makan hari ini, Pak Guru?'

]]> Kisah relawan guru di Asmat, Papua: 'Apakah saya dapat makan hari ini, Pak Guru?'

agatsHak atas foto BBC Indonesia

"Pak Guru, ada makanan atau tidak?" Stefanus mencoba mengingat lagi pertanyaan murid-muridnya ketika awal mula mengajak mereka mengikuti belajar mengajar secara cuma-cuma tiga tahun silam.

"Teng, teng, teng..." Bunyi-bunyian seperti ini sangat diakrabi oleh anak-anak yang tinggal di kampung Simsagar, di pinggiran kota Agats, ibu kota Kabupaten Asmat, Papua.

Stefanus Batlayeri, yang berusia 26 tahun, memukul kentongan besi sebagai tanda agar anak-anak itu segera masuk ke dalam ruangan untuk belajar menulis dan membaca.

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Perjuangan mengajar anak-anak Asmat

Namun sebagian besar anak-anak itu seringkali mengharapkan bunyi itu sebagai berarti panggilan untuk makan bersama secara cuma-cuma - bukan untuk sekolah.

  • Krisis kese hatan di Asmat: 'Saya minum air langsung dari sungai'
  • Panglima TNI klaim wabah campak 'berhasil diatasi,' Bupati Asmat menuding 'Jakarta hanya bicara uang'
  • Lima hal yang perlu Anda ketahui tentang wabah campak dan gizi buruk di Asmat
Hak atas foto BBC Indonesia

"Pak Guru, ada makanan atau tidak?" Stefanus mencoba mengingat lagi pertanyaan murid-muridnya ketika awal mula mengajak mereka untuk mengikuti belajar mengajar secara cuma-cuma sejak tiga atau empat tahun silam.

Apabila jawabannya "tidak ada makanan", maka anak-anak itu ogah-ogahan untuk belajar agama, membaca dan menulis. Mereka akan meninggalkan Stefanus mematung sendirian.

Hak atas foto BBC Indonesia

Tidak gampang, memang. Apalagi sebagian besar orang tua anak-anak itu juga punya kehendak yang sama, makan dengan cuma-cuma. Kejadian seperti ini sering terulang sehingga memaksa Stefanus untuk berpikir keras mencari jalan keluarnya.

"Kadang-kadang saya bilang, 'ah, mari kita sekolah dulu. Habis sekolah, nanti kita dapat (makan)'."

Dan akhir Januari lalu, di sebuah pagi yang terik, usai membunyikan kentongan besi itu, Fanus harus menjemput murid-muridnya di perempatan untuk masuk ke dalam kelas. Dia juga setengah berteriak "ayo sekolah anak-anak...".

Hak atas foto BBC Indonesia

Mengenakan kaos oblong putih da n bercelana jeans, Pak Guru -demikian Stefanus disapa - berdiri di depan klas dan kemudian memanggil satu per satu muridnya. Pagi itu itu langit Agats terang-benderang dan sinar matahari mulai terasa terik.

Di dalam gedung milik pemerintah daerah yang disulap menjadi klas, Stefanus memegang beberapa lembaran kertas berisi daftar nama, tanggal kelahiran, nama orang tua, serta status pendidikan anak-anak itu.

Di kolom terakhir itu kebanyakan tertulis "tidak tamat sekolah".

"Anak-anak ini tidak tahu baca tulis sama-sekali," Stefanus menghela napas panjang dalam wawancara usai kegiatan belajar berakhir.

Hak atas foto BBC Indonesia

Berdiri di atas rawa-rawa, bangunan kayu tempat anak-anak itu belajar membaca dan menulis berada di sebuah perkampungan kumuh. L etaknya relatif tidak jauh dari pasar Dolog di pinggiran kota Agats.

Orang-orang yang tinggal di kampung Simsagar dan beberapa kampung lainnya itu merupakan warga pendatang. Sebagian besar di antara mereka berasal dari Distrik (setingkat kecamatan) Safan - bersebelahan dengan Distrik Agats.

Tertarik dengan kemudahan mendapatkan uang di ibu kota kabupaten, beratus-ratus orang berduyun-duyun meninggalkan kampungnya - juga meninggalkan kebiasaan lama seperti berburu, menanam dan mengkonsumsi sagu atau ubi.

Hak atas foto BBC Indonesia

Sebagian besar di antara mereka kini bekerja serabutan misalnya menarik gerobak di pelabuhan lama Agats.

Ketika kapal berukuran besar merapat di pelabuhan kota kecil itu, orang-orang di kampung Simsagar dan sekitarnya akan "tersenyum bahag ia" saat gerobak mereka dipenuhi barang bawaan para penumpang yang turun di pelabuhan itu. Tapi masalahnya tidak tiap hari kapal berlabuh di kota kecil yang berawa-rawa itu.

"Lebih baik ditemani warga lokal saat ke kampung di belakang Pasar Dolog." Saran seperti ini setidaknya disampaikan oleh dua orang warga Agats saat saya berinisiatif ke kampung itu.

Hak atas foto BBC Indonesia

Mereka biasanya merujuk dengan cerita lisan dan pengalaman pribadi beberapa orang yang mengaku mendapat pengalaman yang "tidak nyaman" selama berada di wilayah itu.

Tapi, faktanya, saya dan rekan aman-aman saja selama berada di sana siang itu.

Kembali lagi ke sekolah informal itu tadi. Dirintis oleh seorang pastur dari Keuskupan di kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua, sek olah informal ini semula dilakukan di ruangan terbuka - persisnya di emperan jalan.

Awalnya hanya digelar di hari Minggu, dan lebih menitikberatkan pada materi agama ("dan cara berdoa yang baik," ungkap Fanus), tetapi belakangan materi dan waktunya ditambah yaitu pelajaran membaca, menulis dan menghitung.

Hak atas foto BBC Indonesia

"Kita kemudian jadikan rumah belajar baca tulis," akunya kemudian menyebut nama seorang pastur di Keuskupan Agats yang berperan besar untuk mengenalkan ide belajar baca tulis tersebut.

Rumah Belajar Cahaya Kasih Bunda, begitu namanya.

Pada dinding di ruangan itu ditempel daftar pelajaran yang isinya menyebutkan, mereka belajar "kebersihan" pada Senin, belajar "berhitung" pada Selasa, "baca tulis" pada Rabu dan "agama pada Kamis.

Dan pagi itu, seperti hari-hari sebelumnya, tidak ada satu pun muridnya yang bersepatu. Juga tidak ada yang mengenakan seragam sekolah.

Hak atas foto BBC Indonesia

Mereka hanya duduk bersila, selonjor atau tiduran di lantai, tanpa kursi dan meja layaknya ruang sekolah umum kebanyakan.

"Lipat tangan! Hot! Kunci mulut! Crik!" Bulir-bulir keringat sebesar biji jagung menghiasi wajah Stefanus.

Melalui nyanyian yang terus menerus dia ulang, pria kelahiran Samlaki, Maluku itu berusaha membujuk murid-muridnya agar tetap fokus mengikuti pelajaran.

Meninggalkan kampung halamannya di Maluku setelah lulus sekolah menengah atas, Stefanus terdampar di Agats, Papua, sebuah kota kecil berawa-rawa di pinggiran Laut Arafuru, kira-kira 10 tahun silam.

Semenjak tiga tahun silam, dia memilih untuk berlabuh di Keuskupan di kota kecil itu dengan "mengabdi" sebagai tenaga pendidik bagi puluhan anak-anak buta huruf yang tinggal di pinggiran kota itu.

Hak atas foto BBC Indonesia

"Saya tertarik," itulah jawaban singkatnya saat saya menanyakan apa yang melatari dia akhirnya melibatkan diri membantu anak-anak buta huruf itu agar bisa membaca, menulis dan berhitung.

"Mereka tidak pernah sekolah. Tamatan TK pun tidak ada," tambahnya. Seperti diungkapkan di awal tulisan, upayanya mengajak anak-anak ini untuk belajar baca-tulis tidaklah mudah.

Dia kemudian mengingat-ingat lagi ketika dia didamprat oleh beberapa orang tua murid yang menganggap keberadaan sekolah informal itu tidak bermanf aat karena "anak-anak ini tidak bakal mendapat ijasah kelulusan."

Hak atas foto BBC Indonesia

Ucapan orang tua murid itu sempat mengusik Stefanus dan sempat membuatnya gelisah dan patah arang. Seringkali ruang klas menjadi kosong karena pertanyaan orang tua murid tersebut.

"Maka ada pikiran mereka tidak mau anaknya datang lagi (ke sekolah). Orang tua inginnya anaknya cari makan di dusun, panggur sagu, cari ikan, dorong gerobak, asal dapatkan uang." Mata Stefanus sempat menerawang jauh.

"Saya bilang: 'Nanti kita berusaha. Kita berusaha anak ini mendapatkan ijasah'." Janji ini, juga pembagian makanan cuma-cuma pada hari-hari tertentu, cukup berhasil membuat sekolah informal ini tetap berdiri sampai sekarang.

Hak atas foto BBC Indonesia

Perihal menyediakan makanan bagi bocah-bocah itu, Stefanus lantas bercerita tentang pengalamannya yang membuat saya menarik napas panjang - dan sedih.

Begini ceritanya. Selama sepekan, anak-anak itu masuk sekolah setiap Senin, Selasa, Rabu dan Kamis. Dua hari di antaranya - Senin dan Kamis - mereka mendapat makanan gratis yang disediakan Stefanus.

Dilatari biaya hidup yang tinggi di Asmat, di awal-awal pendirian sekolah ini, dia mengaku pernah hanya bisa menyediakan sesendok makanan bubur untuk setiap murid yang hadir.

Hak atas foto BBC Indonesia

"Kalau saya bikin bubur, setiap anak satu sendok," ungkapnya datar. Sesendok bubur itu kemudian diletakkan di mangkuk kecil yang dibawa setiap anak didiknya. Jumlah murid bisa membengkak di atas 50 saat ada pembagian makanan.

"Kalau kita (memberikan bubur) sampai lebih dari satu atau tiga (sendok), berarti yang lain tidak akan mendapatkannya."

"Kita tidak enak juga kalau ada yang dapat, dan ada yang tidak dapat." Intonasi kalimat Stefanus tetap datar.

Hak atas foto BBC Indonesia

Stefanus mengaku acapkali harus merogoh koceknya sendiri demi menyediakan makanan bagi anak-anak itu. "Saya jualan sayur atau ikan setiap malam."

Dari jualan sayur dan ikan itu, yang dihargai antara lima hingga sepuluh ribu Rupiah per ikat, pria ini bisa menyisihkan uang untuk membeli "kacang, ber as, gula, susu untuk anak-anak."

Hak atas foto BBC Indonesia

Apakah Anda mendapatkan semacam honorarium atau gaji atas pengabdian Anda selama ini? Kami akhirnya menanyakannya.

"Gaji saya per bulan satu juta Rupiah per bulan, tapi kadang-kadang dibayar per empat bulan, lima bulan atau tiga bulan," akunya. Gaji ini disebutnya diterimanya dari pemerintah Kabupaten Asmat.

Hak atas foto BBC Indonesia

Uang sebesar itu, tentu saja, tidak cukup buat Stefanus untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari. Belum lagi yang harus disisihkan sebagian untuk membeli bahan makanan untuk murid-muridnya .

"Karena ada banyak anak-anak yang minta (uang). Ada anak yang membutuhkan."

Hak atas foto BBC Indonesia

Selama empat hari tinggal di Agats, saya beberapa kali memergoki Stefanus menyetrika pakaian di hotel yang dikelola keuskupan Agats. Rutinitas ini dia kerjakan nyaris saban malam di ruangan tengah hotel itu ketika sebagian tamu hotel terlelap.

Kebetulan saya dan rekan menginap di hotel tersebut selama meliput kasus gizi buruk dan campak yang menewaskan 72 bocah di kawasan itu.

"Saya harus mencari uang tambahan," kata Stefanus lirih sesaat sebelum kami meninggalkan kota itu.

Hak atas foto BBC Indonesia

Bagaimanapun di hadapkan halangan dan tantangan, Stefanus mengaku terus maju. Dia juga mengaku lega setelah upayanya mendidik anak-anak buta huruf itu mendapat perhatian dan bantuan sejumlah kalangan.

Hak atas foto BBC Indonesia

"Misalnya ada batuan dari komunitas Books for papua," ungkapnya seraya matanya berbinar. Books for Papua adalah komunitas yang didirikan sejumlah anak muda di Indonesia yang peduli terhadap pendidikan di Papua.

Motivasi dan tekad sebagian murid-muridnya yang terus ingin maju menguatkan sekaligus menyadarkan Stefanus untuk terus berusaha agar mereka nantinya bisa melanjutkan ke sekolah formal.

"Perasaan saya menjadi senang karena ada anak yang sekarang sudah tamat SMP dan masuk SMA," ungka pnya. Belum lagi kalau anak didiknya mampu membaca, menulis dan berhitung secara lancar.

Hak atas foto BBC Indonesia
Sumber: Google News | Berita 24 Papua

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »