Keramik Bercita Rasa Tinggi untuk Suvenir Kenegaraan

Keramik Bercita Rasa Tinggi untuk Suvenir Kenegaraan INDUSTRI KERAMIK: Industri keramik Nuanza Porcelain saat ditinjau Presiden Joko Widodo ...

Keramik Bercita Rasa Tinggi untuk Suvenir Kenegaraan

INDUSTRI KERAMIK: Industri keramik Nuanza Porcelain saat ditinjau Presiden Joko Widodo di salah satu event peluncuran KITE di Boyolali, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Modesta Fiska)

INDUSTRI KERAMIK: Industri keramik Nuanza Porcelain saat ditinjau Presiden Joko Widodo di salah satu event peluncuran KITE di Boyolali, baru-baru ini. (suaramerdeka.com/Modesta Fiska)

SEMARANG, suaramerdeka.com â€" Lebih dari 10 tahun lalu, Roy Wibisono ahli kimia jebolan Universitas Diponegoro mengembangkan keramik Sigar Bencah di Semarang dan menggunakan bahan baku lumpur Lapindo dan abu vulkanik Merapi untuk membuat porcelain berkualitas. Kini usaha Nuanza Porcelain dengan basis di Boyolali sejak 2012 tersebut mensuplai pasar keramik di Amerika, Eropa hingga Uni Emirat Arab serta memenuh i kebutuhan suvenir berkelas untuk seluruh tamu negara.

Industri keramik lokal di Indonesia bisa dibilang dalam kondisi kritis. Sentra-sentra yang berkembang tidak lagi bersinar seperti masa kejayaannya. Belum lagi usia para perajin yang semakin tua dan sudah jarang generasi muda berminat meneruskan usaha itu. Padahal menurut Roy Wibisono, kebutuhan keramik sampai saat ini masih cukup besar. Bahkan permintaan pasar dari dalam dan luar negeri membuatnya kewalahan.

Roy yang fokus membuat porcelain dan stoneware (kasta tertinggi dari keramik) itu, akhirnya menggandeng sentra industri keramik di Bayat Klaten dan Klampok, Banjarnegara. Di sana masih ada 1.500 perajin tersisa yang terus diberikan pelatihan secara bertahap. Mereka dilatih untuk menghasilkan keramik dengan grade berkualitas untuk bisa memenuhi permintaan pasar yang kini bersaing ketat dengan negara kompetitor produsen keramik seperti Vietnam.

“Dulu China adalah kompetitor kita. Sekarang mulai bergese r ke Vietnam dan Indonesia kewalahan. Makanya kami menggandeng sentra industri di Jateng yang mulai kritis dan kita bantu dengan pelatihan untuk meningkatkan kualitas agar bisa bersaing dengan produsen lainnya,” papar Roy yang ditemui di sela kegiatannnya menjadi pembicara pada event Badan Ekonomi Kreatif di Semarang, baru-baru ini.

Untuk melatih perajin, tentu bukan hal yang mudah. Paling tidak dibutuhkan waktu 3-4 bulan. Di mana bisa benar-benar dilepas untuk produksi keramik berkualitas. Saat ini kapasitas produksi Nuanza Porcelain mencapai 6.000 pieces per bulan untuk produk besar dan kecil. Jumlah tersebut akan ditingkatkan hingga 10 ribu pieces minimal sampai akhir tahun ini. Dengan sumber daya manusia (SDM) lokal di Ampel Boyolali yang jumlahnya sekitar 60 orang, dinilai masih belum mencukupi. Sehingga langkah menggandeng para perajin di sentra-sentra industri dinilai bisa menjadi solusi mengantisipasi membludaknya permintaan keramik ekspor dari Jawa Tengah.

< strong>Suvenir Kenegaraan

Selama beberapa tahun terakhir, sejak pemerintahan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Nuanza memenuhi kebutuhan lokal suvenir yang sudah dikoleksi hampir 200 kepala negara di dunia. Suvenir dalam bentuk figurine penari Bali dan pengantin Jawa ini harga termahalnya mencapai Rp 18 juta per buah. Patung porcelain penari Bali dengan lapisan emas putih dan balutan kristal Swarovski juga menjadi suvenir dalam KTT IORA 2017.

Kendati bahan baku keramik relatif masih mudah diperoleh dari beberapa wilayah di Jateng, harga komponen gas elpiji untuk proses pembakaran masih relatif tinggi dibanding negara Asean lainnya. Kebutuhan LPG industri 50 kilogram dalam satu bulannya bisa menyedot alokasi hingga Rp 40 juta setiap bulan. Pria kelahiran Kendal 1972 itu, fokus menggarap keramik dengan ciri khas dan budaya Indonesia. Seperti untuk dinding tiga dimensi, tableware dengan corak dan motif batik yang cukup diminati pasar.

“Pernah kit a memenangkan tender Grand Hyatt Sanur Bali. Di mana ratusan pemain keramik dunia ikut termasuk juga Amanjiwo Borobudur memakai tableware untuk produk kita dan akan dikembangkan untuk grup Amanjiwo di seluruh dunia,” imbuhnya.

Ke depan, akan dikembangkan juga isolator listrik untuk kebutuhan PLN yang selama ini masih harus diimpor. Peluang ini sejalan dengan megaproyek listrik 35 ribu MW yang dicanangkan pemerintah. Selain itu Nuanza juga akan merambah di bidang asesoris keramik yang perlahan mulai naik daun.
(Modesta Fiska/CN40/SM Network)

Comments

comments

Sumber: Suara Merdeka

COMMENTS