Hubungan AS-Rusia Capai Titik Terendah

Hubungan AS-Rusia Capai Titik Terendah Menteri Luar Negeri AS pilihan Presiden Donald Trump, Rex Tillerson. (VOA/dok) MOSKOW, suaramerdeka....

Hubungan AS-Rusia Capai Titik Terendah

Menteri Luar Negeri AS pilihan Presiden Donald Trump, Rex Tillerson. (VOA/dok)

Menteri Luar Negeri AS pilihan Presiden Donald Trump, Rex Tillerson. (VOA/dok)

MOSKOW, suaramerdeka.com â€" Hubungan Amerika-Rusia berada pada titik rendah, hal ini diungkapkan Menteri Luar Negeri Amerika Rex Tillerson. Dimana kurangnya rasa saling percaya antara kedua negara. Pernyataan itu dilontarkannya hari Rabu (12/4) setelah pembicaraan panas berjam-jam di Moskow dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.

Putin, yang berbicara secara terpisah kepada pewawancaranya dari televisi pemerintah Rusia, sependapat bahwa hubungan antara Washington dan Moskow telah memburuk tahun ini.

Perselisihan terbaru antara Moskow dan Washington adalah bagaimana serangan senjata kimia 4 April l alu yang menewaskan lebih dari 85 orang dan membuat sakit ratusan warga Suriah itu terjadi. Tillerson mengatakan Amerika cukup yakin serangan itu “direncanakan serta diarahkan dan dilakukan oleh pasukan rezim Suriah.”

Tetapi Lavrov tidak memberi landasan bagi klaim Rusia bahwa serangan gas sarin itu bisa terjadi karena provokasi oleh pemberontak Suriah atau dipicu sewaktu pesawat-pesawat tempur Suriah menghantam sebuah gudang senjata pemberontak yang menyimpan gas sarin.

Dalam konferensi pers bersama dengan Tillerson, Lavrov mengemukakan pihaknya melakukan penyelidikan menyeluruh. Diplomat tertinggi Rusia itu mengatakan Moskow tidak akan melindungi siapapun yang bertanggungjawab atas serangan tersebut.

Kunjungan Tillerson ke Moskow itu merupakan kontak tertinggi antara Amerika dan Rusia sejak Trump menjabat Januari lalu. Kedua negara pemilik kekuatan nuklir terbesar di dunia itu berselisih mengenai banyak isu, termasuk berlanjutnya dukungan Moskow bagi pembe rontak di Ukraina Timur yang bertempur melawan pemerintah Kiev, serta pernyataan kalangan intelijen Amerika bahwa para peretas komputer yang bertindak atas perintah Kremlin telah mencampuri pemilihan presiden Amerika tahun lalu.

(VOA/CN34)

Sumber: Suara Merdeka

COMMENTS